Rabu, 13 September 2017
aku tahu
aku tahu ; diksiku berbeda
sajakku tak bernada
hanya dekripsi jiwa
yang terlalu dibawa-bawa
aku tahu; senjaku selalu kelabu
ceritaku terlampau pilu
hingga resah gemar memburu
dalam haru, setiap waktu
aku tahu ; yang kulakukan hanya berelegi
saat kau hendak beranjak pergi
tanpa penjelasan berarti
dan mungkin tak akan kembali
aku tahu; tak seharusnya aku mendamba
karena hanya meninggalkan luka
menyisakan nelangsa
mencipta rasa hampa
aku tahu; bahwa kau tidak akan pernah tahu
tentang perasaan yang kian membiru
mendamba dan mengagumimu
selama berpuluh-puluh minggu
Rabu, 06 September 2017
Senja itu kita memang pertama kali bertemu
Saat hatiku yang pilu menemukan tatapan sendumu
Aku tahu, itu tanpa sengaja
Tapi entah mengapa, aku tak ingin semua ini berakhir begitu saja
Pagi itu, kali kedua kita bertemu
Kita saling menyapa, dan aku menyukai senyummu
Apakah kita sudah berteman?
Entah, aku masih terbuai dengan angan-angan
Aku masih berhitung, ini ketiga kalinya
Kita memiliki percakapan, sulit dipercaya
Hanya mengalir tanpa arah
Tanpa ada rasa resah gundah dan gelisah
Aku tak bisa menghitung lagi sejak pertemuan keempat
Terlalu banyak waktu kita habiskan berdua ke berbagai tempat
Sekali lagi aku menyadari kita hanya teman
Namun tak bisa kusangkal semua rasa nyaman
Aku ingat, sore itu kita menikmati teh di teras
Mengkhayal masa depan tanpa satu batas
Aku ingat impian impian yang kau ucapkan
Dengan senang hati aku meng-Amiin-kan
Tapi tahukah?
Rasa ini makin menjadi
Seperti luka yang sembuh karena terobati
Seringkali aku tak bisa menahan
Seolah akan meledak jika tak kuungkapkan
Wahai kau, seseorang yang kau anggap teman ini mencintaimu.
Langganan:
Postingan (Atom)